🏏 Berharap Hanya Kepada Allah Swt

Allah memerintahkan untuk selalu mengingat Allah Swt kapan pun dan di mana pun. Allah menyatakan di dalam Q.S. Al-A’raf (7): 205: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Raja berasal dari bahasa arab yang artinya harapan. Yang dimaksud raja’ pada pembahasan ini ialah mengharapkan keridaan Allah Swt dan rahmat-Nya. Rahmat adalah segala karunia Allah Swt yang mendatangkan manfaat dan nikmat. Raja’ termasuk akhlakul karimah terhadap Allah Swt, yang manfaatnya dapat mempertebal iman dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Umat Islam yang mengharapkan ampunan Allah, berarti ia mengakui bahwa Allah itu Maha Pengampun. Umat Islam yang mengharapkan agar Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, berarti ia menyakini bahwa Allah itu Maha pengasih dan Maha Penyayang. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap umat Islam senantiasa berharap memperoleh rida dan rahmat Allah, sebagai bukti penghambaan kepada-Nya. Allah Swt telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar banyak berdoa kepada Allah Swt, dengan berharap Allah Swt akan mengabulkan doanya. Allah Swt berfirman "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..." 4060 Umat Islam yang bersifat raja’ tentu dalam hidupnya akan mendapatkan hikmah dan keutamaan sebagai berikut 1. Optimis. Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan optimis adalah orang yang selalu berpengharapan berpandangan baik dalam menghadapi segala hal atau persoalan. Optimis termasuk sifat terpuji. Sifat optimis seharusnya dimiliki oleh setiap umat Islam. Seorang muslim muslimah yang optimis tentu akan berprasangka baik terhadap Allah. Ia akan selalu berusaha agar kualitas hidupnya meningkat. Kebalikan dari sifat optimis ialah sifat pesimistis. Sifat pesimistis ini seharusnya dijauhi, karena termasuk dalam sifat tercela. Seseorang yang pesimis dapat di artikan berprasangka buruk kepada Allah. Ia dalam hidupnya kemungkinan besar tidak akan memperoleh kemajuan. Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencobanya. Umat Islam yang bersifat optimistis hendaknya bertawakkal kepada Allah SWT yaitu berusaha sekuat tenaga untuk meraih apa yang dicita-citakannya, sedangkan hasilnya diserahkan kapada Allah SWT. Orang yang tawakkal tentu akan memperoleh pertolongan dari Allah Swt. Allah Swt berfirman “Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” 65 3 2. Dinamis. Kata dinamis berasal dari bahasa belanda dynamisch yang berarti giat bekerja, tidak mau tinggal diam, selalu bergerak, terus tumbuh. Seseorang yang berjiwa dinamis, tentu selama hidupnya, tidak akan diam berpangku tangan. Dia akan terus berusaha secara sungguh-sungguh, untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah yang lebih baik dan lebih maju. Sikap pelaku dinamis seperti itu sebenarnya sesuai dengan fitrah pembawaan manusia, yang memiliki kecenderungan untuk meningkat ke arah yang lebih baik. Allah Swt berfirman “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat dalam kehidupan,” 8419 Seorang muslim muslimah yang sudah meraih prestasi baik dalam bidang positif, hendaknya berusaha terus meningkatkan prestasinya ke arah yang lebih baik lagi. Hal itu sesuai dengan suruhan Allah Swt dalam Al-Qur’an dan anjuran Rasulullah Saw dalam haditsnya. Allah Swt berfirman. “Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” 94 7-8 Juga Rasulullah Saw bersabda yang artinya ” barang siapa yang amal usahanya lebih baik dari kemarin maka orang itu termasuk orang yang beruntung, dan jika amal usahanya sama dengan kemarin, termasuk yang merugi, dan jika amal usahanya lebih buruk dari yang kemarin, maka orang itu termasuk yang tercela”. Tabrani Kebalikan dari sifat dinamis adalah sifat statis. Sifat statis seharusnya dijauhi karena termasuk akhlak tercela yang dapat menghambat kemajuan dan mendatngkan kerugian. 3. Berpikir Kritis. Dalam kamus bersar bahasa indonesia di jelaskan, bahwa perpikir krtitis itu artinya tajam dalam penganalisaan. Bersifat tidak lekas percaya, dan sifat terlalu berusaha menemukan kelasalahan, kekeliruan atau kekurangan. Orang yang ahli memberi kjritik atau memperikan pertimbangan apakah sesuatu itu benar atau salah, tepat atau keliru, sudah lengkap atau masih kurang disebut seorang kritikus. Kritik itu ada dua macam yaitu, yang termasuk akhlak terpuji dan yang tercela. Kritik yang termasuk akhlak terpuji adalah kritik yang sehat, yang didasari dengan niat ikhlas karena Allah Swt, tidak menggunakan kata-kata pedas yang menyakitkan hati, dan dengan maksud untuk memberi pertolongan kepada orang yang dikritik agar menyadari kesalahannya, kekeliruannya, dan kekurangan, disertai dengan memberikan petinjuk tantang jalur keluar dari kesalahan, kekeliruan dan kekurangan tersebut. Rasulullah Saw bersabda, yang artinya “Yang dinamakan orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang-orang muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya, sedang yang dinamakan orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah.” Dawud dan Nasa’i Kritik yang sehat, seperti tersebut sebenarnya termasuk ke dalam tolong menolong yang di perintahkan Allah Swt untuk dilaksenakan. Allah Swt berfirman yang artinya “Dan bertolong menolonglah kamu dalam mengerjakankebijakan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” QS. Al-Maa-idah, 52 Kritik yang termasuk akhlak tercela adalah kritik yang merusak, yang tidak didasari niat ikhlas karena Allah Swt, dengan menggunakan kata-kata keji yang menyakitkan hati dan tidak disertai memberi petunjuk tentang jalur keluar dari kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan. Sehingga antara mereka saling bermusuhan dan saling dengki, yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kamu berdengki-dengkian, jangan putus memutuskan persaudaraan, jangan benci-membenci, jangan pula belakang membelakangi, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana telah di perintahkan Allah kepadamu.” dan Muslim 4. Mengenali Diri Dengan Mengharap Keridaan Allah Swt. Salah satu cara dalam mengharap keridaan Allah Swt ialah berusaha mengenali diri sendiri. Hal ini sesuai dengan pepatah yang terkenal di kalangan tasawuf “Barang siapa yang mengenal dirinya tentu akan mengenal Tuhannya.” Mukmin yang mengenali dirinya di mana pun dan kapan pun, tentu akan selalu mengadakan instropeksi apakah dirinya sudah betul-betul menghambakan dirinya kepada Allah Swt? Kalau sudah, bersyukurlah dan tingkatkan kualitasnya. Kalau belum, kembalilah ke jalan yang diridai Allah Swt dengan jalan beul-betul bertakwa kepada-Nya. Mukmin yang mengenali dirinya akan menyadari bahwa ia hidup karena Allah dan bertujuan untuk memperoleh keridaan Allah. Mukmin yang ketika di dunianya memperoleh kerdiaan Allah, tentu di alam kubur dan alam akhiratpun akan memperoleh rida Allah Swt, ia akan terbebas dari siksa kubur dan azab neraka dan akan mendapatkan nikmat kubur serta pahala surga.
Namun di tengah kesulitan tersebut, umat Muslim diajarkan untuk berharap hanya kepada Allah semata. ADVERTISEMENT. Dalam ajaran Islam, Allah SWT merupakan satu-satunya tempat bersandar kaum Muslimin. Saat sedang sedih dan terpuruk, Allah yang menjadi penyelamat dan bisa membantu umat-Nya menyelesaikan apa pun masalah mereka.

Surat Asy-Syura merupakan termasuk golongan surat Makkiyah karena diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Surat ini berisikan 53 ayat dan Asy-Syura memiliki arti 'musyawarah'.Sesuai dengan artinya, surat ini banyak diletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam, yaitu musyawarah. Inilah arti, kandungan, dan keutamaan dari surat Asy-Syura. 1. Surat Asy-Syura ayat 21-53 beserta SantosBerikut bacaan arab Surat Asy-Syura, latin dan 21اَمْ لَهُمْ شُرَكٰۤؤُا شَرَعُوْا لَهُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْۢ بِهِ اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗوَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌam lahum syurakā`u syara'ụ lahum minad-dīni mā lam ya`żam bihillāh, walau lā kalimatul-faṣli laquḍiya bainahum, wa innaẓ-ẓālimīna lahum 'ażābun alīm"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan diridai Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda hukuman dari Allah tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih."Ayat 22تَرَى الظّٰلِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا كَسَبُوْا وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۗوَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فِيْ رَوْضٰتِ الْجَنّٰتِۚ لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُtaraẓ-ẓālimīna musyfiqīna mimmā kasabụ wa huwa wāqi'um bihim, wallażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti fī rauḍātil-jannāt, lahum mā yasyā`ụna 'inda rabbihim, żālika huwal-faḍlul-kabīr"Kamu akan melihat orang-orang zalim itu sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan, dan azab menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."Ayat 23ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌżālikallażī yubasysyirullāhu 'ibādahullażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāt, qul lā as`alukum 'alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbā, wa may yaqtarif ḥasanatan nazid lahụ fīhā ḥusnā, innallāha gafụrun syakụr"Itulah karunia yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah Muhammad, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri."Ayat 24اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۚ فَاِنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يَخْتِمْ عَلٰى قَلْبِكَ ۗوَيَمْحُ اللّٰهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ ۗاِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِam yaqụlụnaftarā 'alallāhi każibā, fa iy yasya`illāhu yakhtim 'alā qalbik, wa yam-ḥullāhul-bāṭila wa yuḥiqqul-ḥaqqa bikalimātih, innahụ 'alīmum biżātiṣ-ṣudụr"Ataukah mereka mengatakan, “Dia Muhammad telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah.” Sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia kunci hatimu. Dan Allah menghapus yang batil dan membenarkan yang benar dengan firman-Nya Al-Qur'an. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati."Ayat 25وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَۙwa huwallażī yaqbalut-taubata 'an 'ibādihī wa ya'fụ 'anis-sayyi`āti wa ya'lamu mā taf'alụn"Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,"Ayat 26وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَيَزِيْدُهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗوَالْكٰفِرُوْنَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌwa yastajībullażīna āmanụ wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa yazīduhum min faḍlih, wal-kāfirụna lahum 'ażābun syadīd"dan Dia memperkenankan doa orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah pahala kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras."Ayat 27 وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌwalau basaṭallāhur-rizqa li'ibādihī labagau fil-arḍi wa lākiy yunazzilu biqadarim mā yasyā`, innahụ bi'ibādihī khabīrum baṣīr"Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat."Ayat 28وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗ ۗوَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُwa huwallażī yunazzilul-gaiṡa mim ba'di mā qanaṭụ wa yansyuru raḥmatah, wa huwal-waliyyul-ḥamīd"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji."Ayat 29وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيْهِمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ ۗوَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ اِذَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌwa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wa mā baṡṡa fīhimā min dābbah, wa huwa 'alā jam'ihim iżā yasyā`u qadīr"Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki."Ayat 30وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗwa mā aṣābakum mim muṣībatin fa bimā kasabat aidīkum wa ya'fụ 'ang kaṡīr"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu."Ayat 31وَمَآ اَنْتُمْ بِمُعْجِزِيْنَ فِى الْاَرْضِۚ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍwa mā antum bimu'jizīna fil-arḍ, wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr"Dan kamu tidak dapat melepaskan diri dari siksaan Allah di bumi, dan kamu tidak memperoleh pelindung atau penolong selain Allah."Ayat 32وَمِنْ اٰيٰتِهِ الْجَوَارِ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِ wa min āyātihil-jawāri fil-baḥri kal-a'lām"Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah kapal-kapal yang berlayar di laut seperti gunung-gunung."Ayat 33اِنْ يَّشَأْ يُسْكِنِ الرِّيْحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلٰى ظَهْرِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍۙiy yasya` yuskinir-rīḥa fa yaẓlalna rawākida 'alā ẓahrih, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr"Jika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin, sehingga jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur,"Ayat 34اَوْ يُوْبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوْا وَيَعْفُ عَنْ كَثِيْرٍۙau yụbiq-hunna bimā kasabụ wa ya'fu 'ang kaṡīr"atau Dia akan menghancurkan kapal-kapal itu karena perbuatan dosa mereka, dan Dia memaafkan banyak dari mereka,"Ayat 35وَّيَعْلَمَ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَاۗ مَا لَهُمْ مِّنْ مَّحِيْصٍwa ya'lamallażīna yujādilụna fī āyātinā, mā lahum mim maḥīṣ"dan agar orang-orang yang membantah tanda-tanda kekuasaan Kami mengetahui bahwa mereka tidak akan memperoleh jalan keluar dari siksaan."Ayat 36فَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۚfa mā ụtītum min syai`in fa matā'ul-ḥayātid-dun-yā, wa mā 'indallāhi khairuw wa abqā lillażīna āmanụ wa 'alā rabbihim yatawakkalụn"Apa pun kenikmatan yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa kenikmatan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"Ayat 37وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ wallażīna yajtanibụna kabā`iral-iṡmi wal-fawāḥisya wa iżā mā gaḍibụ hum yagfirụn"dan juga bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf,"Ayat 38وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ wallażīnastajābụ lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syụrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn"dan bagi orang-orang yang menerima mematuhi seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"Ayat 39وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُوْنَ wallażīna iżā aṣābahumul-bagyu hum yantaṣirụn"dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri."Ayat 40وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَwa jazā`u sayyi`atin sayyi`atum miṡluhā, fa man 'afā wa aṣlaḥa fa ajruhụ 'alallāh, innahụ lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim."Ayat 41وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ مَا عَلَيْهِمْ مِّنْ سَبِيْلٍۗwa lamanintaṣara ba'da ẓulmihī fa ulā`ika mā 'alaihim min sabīl"Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka."Ayat 42اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌinnamas-sabīlu 'alallażīna yaẓlimụnan-nāsa wa yabgụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, ulā`ika lahum 'ażābun alīm"Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih."Ayat 43وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِwa laman ṣabara wa gafara inna żālika lamin 'azmil-umụr"Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia."Ayat 44وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ وَّلِيٍّ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗوَتَرَى الظّٰلِمِيْنَ لَمَّا رَاَوُا الْعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ اِلٰى مَرَدٍّ مِّنْ سَبِيْلٍۚwa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ miw waliyyim mim ba'dih, wa taraẓ-ẓālimīna lammā ra`awul-'ażāba yaqụlụna hal ilā maraddim min sabīl"Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya pelindung setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?”Ayat 45وَتَرٰىهُمْ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا خٰشِعِيْنَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّۗ وَقَالَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اَلَآ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ فِيْ عَذَابٍ مُّقِيْمٍwa tarāhum yu'raḍụna 'alaihā khāsyi'īna minaż-żulli yanẓurụna min ṭarfin khafiyy, wa qālallażīna āmanū innal-khāsirīnallażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah, alā innaẓ-ẓālimīna fī 'ażābim muqīm"Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tertunduk karena merasa hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal."Ayat 46وَمَا كَانَ لَهُمْ مِّنْ اَوْلِيَاۤءَ يَنْصُرُوْنَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ سَبِيْلٍ ۗwa mā kāna lahum min auliyā`a yanṣurụnahum min dụnillāh, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min sabīl"Dan mereka tidak akan mempunyai pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah tidak akan ada jalan keluar baginya untuk mendapat petunjuk."Ayat 47اِسْتَجِيْبُوْا لِرَبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗمَا لَكُمْ مِّنْ مَّلْجَاٍ يَّوْمَىِٕذٍ وَّمَا لَكُمْ مِّنْ نَّكِيْرٍistajībụ lirabbikum ming qabli ay ya`tiya yaumul lā maradda lahụ minallāh, mā lakum mim malja`iy yauma`iżiw wa mā lakum min nakīr"Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak atas perintah dari Allah. Pada hari itu kamu tidak memperoleh tempat berlindung dan tidak pula dapat mengingkari dosa-dosamu."Ayat 48فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗاِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلٰغُ ۗوَاِنَّآ اِذَآ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَاِنَّ الْاِنْسَانَ كَفُوْرٌfa in a'raḍụ fa mā arsalnāka 'alaihim ḥafīẓā, in 'alaika illal-balāg, wa innā iżā ażaqnal-insāna minnā raḥmatan fariḥa bihā, wa in tuṣib-hum sayyi`atum bimā qaddamat aidīhim fa innal-insāna kafụr"Jika mereka berpaling, maka ingatlah Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan risalah. Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia menyambutnya dengan gembira; tetapi jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri niscaya mereka ingkar, sungguh, manusia itu sangat ingkar kepada nikmat."Ayat 49لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ ۙlillahi mulkus-samāwāti wal-arḍ, yakhluqu mā yasyā`, yahabu limay yasyā`u ināṡaw wa yahabu limay yasyā`uż-żukụr"Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki,"Ayat 50اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًا ۚوَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًا ۗاِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌau yuzawwijuhum żukrānaw wa ināṡā, wa yaj'alu may yasyā`u 'aqīmā, innahụ 'alīmung qadīr"atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa."Ayat 51وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌwa mā kāna libasyarin ay yukallimahullāhu illā waḥyan au miw warā`i ḥijābin au yursila rasụlan fa yụḥiya bi`iżnihī mā yasyā`, innahụ 'aliyyun ḥakīm"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan malaikat lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana."Ayat 52وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙwa każālika auḥainā ilaika rụḥam min amrinā, mā kunta tadrī mal-kitābu wa lal-īmānu wa lākin ja'alnāhu nụran nahdī bihī man nasyā`u min 'ibādinā, wa innaka latahdī ilā ṣirāṭim mustaqīm"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Muhammad ruh Al-Qur'an dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab Al-Qur'an dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus,"Ayat 53صِرَاطِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ اَلَآ اِلَى اللّٰهِ تَصِيْرُ الْاُمُوْرُṣirāṭillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, alā ilallāhi taṣīrul-umụr"Yaitu jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah." Baca Juga Surat Al-Buruj Ayat 1-22 Arab Arti, Kandungan dan Keutamaan

Berharap dan meminta kepada makhluk, hanya semakin menumbuhkan rasa minder dan tak percaya diri. Sebaliknya, berharap kepada Allah SWT itu hal yang pasti dan akan mendatangkan kemuliaan. Maka, ia menyebut jika meminta hendaknya meminta kepada Allah SWT dan jika berharap, berharaplah kepada-Nya.
Oleh Andang Heryahya, M. Pd. I., Untuk mengawali tuisan ini saya mengutip firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al-Insyirah ayat ke 8 "Dan hanya kepada Allah SWTengkau berharap."Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan sesuatu yang tidak disukainya atau bisa pula dengan yang menyenangkannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 35 "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar- benarnya. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” Sahabat Ibnu Abbas yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir Al-Qur'an menafsirkan ayat ini "Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan". Berharap itu wajib, karena dalam harapan ada optimisme, ada jalan kemudahan dan ada keyakinan atas kebesaran Allah SWT. Sebaliknya, tidak berharap berarti bedosa. Orang yang tidak berharap kepada Allah akan berdampak negatif. Kecewa, pesimis, merasa hidup sudah tidak ada jalan, kehilangan solusi dan lain-lain. Bagi kita, tidak ada pilihan lain, kecuali AllahSWT harus hadir di dada' harapan kita. Disaat merasa sempit atas segala permasalahan dan ujian hidup, harapan harus tetap menyala. Ada Allah Al Fattah, Allah yang maha membukakan. Allah akan membuka jalan kemudahan dan akan memberikan kemenangan. Begitu juga dengan segala permasalahan dan ujian hidup lainnya There Is Always Hope yakin ada Allah. Allah SWT memiliki nama-nama yang baik, ada 99 Asma Allah. Hadirkanlah nama-nama Allah di setiap harapan dan doa yang kita panjatkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Mu'min ayat 60 "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina'. Terlebih berdo'a di sepertiga malam, sepertiga malam itu waktu yang sangat mahal dan berharga. Itulah Rabb Yang maha Mulia berfirman. "Adakah seseorang yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan apa vang dia minta adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku sehingga aku ampuni dan adakah orang yang berdoa kepada-Ku lalu Aku kabulkan doanya HR Muslim. Subhanallah, keutamaan Qiyamul Lail sangat kuat Rasulullah SAW bersabda "Hendaklah kalian mengerjakan qivamul lail, karena givamul lail itu kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, sebah qiammul lail mendekatkan diri kepada Allah mencegah dari dosa menghapus kesalahan kesalahan, dan mengusir penyakit dari tubuh HR. At Tirmidzi dan Al Hakim Berharap disertai do'a sepertinya sederhana dan mudah. Namun mari kita buktikan. Siapa yang pertama kali hadir di dalam sctiap pcrsoalan dan ujian hidup yang kita alami, siapa yang pertama kali hadir dalam cita-cita yang kita inginkan. Tulisan sederhana ini Insya Allah akan mengantarkan reflcksi atas bebcrapa 'pengalaman' kita masing-masing. Ternyata, syarat utama berharap adalah mengenal dan dekat. Kenapa harapan tidak muncul, tidak mungkin berharap dari sesuatu yang tidak dikenal. Bayi yang di besarkan oleh orang lain, ketika sudah besar dan punya masalah, tidak mungkin berharap kepada orang tuanya. Harapan itu akan ditujukan kepada orang terdekat yang ia kenal. Orang tua yang melahirkannya terhalang oleh orang lain yang mengasuhnya. Begitu juga kita dengan Allah SWT. Apa yang menghalangi harapan kepada Allah SWT ia adalah dunia, scbagian bcsar manusia lcbih dckat dcngan harta. Tidak sedikit manusia yang gagal hidupnya karena terlanjur menyimpan harta di dalam hati. Ilarta menjadi penghalang dengan Allah SWT Harta menjadi panglima harapannya. la yakin bctul bahwa harta akan mampu menenuhi segal harapannya. Al Quran Surat Al-Munafiqun Ayat 9 dan 10, Allah SWT memberikan peringatan kepada kita wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang berbuat demikian mereka itulah orang-orang yang rugi Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan sebelum kematian datang, Tuhanku sekiranya kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh. Jika ada orang yang telah meninggal, dan bisa kembali lagi ke dunia untuk beramal sholeh, ia pasti akan mengatakan saya akan bersedekah. Jawaban ini sebagaimana firman Allah SWT diatas. Kenapa ia menyebut bersedekah, karena sedekah salah satu amal sholeh yang dapat menghapuskan dosa dan mengantarkannya ke dalam surga Allah SWT. Hati yang baik Insya Allah akan mengenal dan dekat, benar-benar mengenal dan dckat dengan Allah SWT. Jika hanya kenal begitu saja, maka hati akan mudah diingatkan oleh yang lain ika hanya dekat begitu saja, tidak kenal baik dengan Allah SWT maka hati akan mudah diingatkan olch yang lain bahkan diisi oleh selain Allah. Seorang staf merenung memikirkan pernyataan bosnya nasib gaji anda ada di tangan saya" saya yang akan menadatangi surat keputusannya Seorang menteri membukukan badannya di depan presiden, seorang staf membukukan badannya di hadapan manajernya. Ingat, schebat hcbatnya manusia, ia tidak hebat. Seolah-olah atasan yang menentukan, seolah-olah presiden yang menentukan dan seolah-olah manajernya yang menentukan. Sebagian orang mcrcspon dcngan ketakutan, akhirnya manajer yang hadir di dalam harapannya. Ia lebih yakin mendekat ke manajernya daripada mendekat kepadaAllah SWT. Kembali keharapan kepada Allah SWT. Jika harapan besar kepada Allah, kita akan merasakan a optimisme dan keyakinan yang akan terus tumbuh. Harapan kepada Allah akan membuahkan kenyamanan dan kebahagiaan, karena kita yakin akan mendapatkan dukungan penuh dari Allah SWT. Hidup itu jauh lebih mudah jika bersama Allah SWT. Itulah scbenarnya escnsi dari harapan dan esensi dari kehidupan. Sebagai penutup tulisan sederhana ini, ada lima hal yang penting kait dengan harapan dan tingkatan manusia dengan kebaikan. Pertama, harapan untuk tegaknya agama Allah di muka bumi. Fokus harapannya kepada tegaknya agama Allah. Ini tugas para aktivis kebaikan, aktivis masjid, pimpinan pesantren dan para ulama. Kedua, berharap tegaknya agama Allah dalam diri kita. Harapan untuk haji, harapan untuk memberikan sedekah yang terbaik dan amal sholeh lainnya. Ini adalah fokus tugas kita semua. Ketiga, berharap tegaknya agama Allah di lingkungan terdekat kita, keluarga dan sahabat Menghadirkan orang terdekat dalam ikhtiar kita Menghadirkan orang lain dalam keseriusan doa kita Keempat, berharap dalam urusan menyelesaikan dunia. Berharap istri baik dan karir berjalan sukses dan harapan lainnya. Berharap kepada Allah untuk menyelesaikan masalah dunia. Kelima berharap mendapatkan ampunan dosa terutama d besar. Mendapatkan ampunan dan naungan Allah dan mendapatkan surga, dijauhkan dari panasnya api neraka. Janganlah berhenti berharap dan berdoa. Berharap itu tanpa batas dan tepi. Berharap harus kita lakukan sampai titik akhir perjalanan. Lengkapi dengan berdzikir, berdoa, sedekah dan amal sholeh lainnya Insya Allah, dadakita akan tetap lapang dan nyaman. Kita akan lulus dalam menghadapi berbagai dinamika dan ujian hidup. Allah akan akan mengabulkan semua doa dan harapan kita, dan akan memberikan yang terbaik. Cita-cita tertinggi kita, mudah-mudahan di setiap harapan dan amal sholeh yang dilakukan, Allah SWT mengingat kita. Wallahu'alam Bisshowaab Sebab, hanya kepada Allah SWT lah kita berharap diterima serta diberi rahmat dan ampunanya. Islam mengajarkan agar berprasangka baik kepada Allah SWT, sehingga orang yang berprasangka baik akan mendapatkan anugerah husnul khatimah. Baca Juga: Mau Teladani Rasulullah? Beginilah Sifat Wudu Nabi Muhammad SAW “Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”Oleh. Mariyah ZawawiKontributor sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”Demikianlah ucapan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang masyhur. Ucapan itu mengingatkan kepada kita agar tidak menaruh harapan kepada manusia. Sebab, manusia hanyalah makhluk Allah Makhluk yang Sering LupaSaat hidup di dunia, kita tidak pernah luput dari ujian dan cobaan. Baik berupa kesenangan maupun kesulitan hidup. Semua itu untuk mengetahui apakah manusia masih tetap berpegang teguh kepada tali agama Allah Swt. ataukah kita sering lupa. Tak terkecuali saat ujian menerpa. Terlebih, jika ujian itu berupa kesenangan. Maka, kita pun tak lagi ingat Tuhan. Kita merasa bahagia dan tidak membutuhkan yang lain. Semua yang kita inginkan, mampu kita sediakan. Kita lupa bahwa semua itu karunia dari Sang Maha ketika kesulitan datang menghampiri, kita merasa sebagai manusia yang paling menderita. Tak ada teman atau saudara yang datang untuk mengulurkan tangan. Maka, kita pun hampir berputus itulah, kita baru ingat kepada-Nya. Kita pun mendekat untuk menumpahkan segala rasa. Kita berharap, Allah Swt. yang Maha Pengasih memberikan pertolongan-NyaHanya Allah Swt. Tempat Menaruh HarapanMemang, hanya kepada Allah Swt. seharusnya kita menaruh harapan. Sebab, hanya Dia satu-satunya yang dapat memberikan pertolongan. Allah Swt. telah menyampaikan hal itu melalui firman-Nya. Misalnya dalam Surah Al-Insyirah [94] 8,وإلى ربك فارغب“Dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap.”Kemudian, dalam Surah Al-Ikhlas [112] , Allah Swt. berfirman,الله الصمد“Allah tempat bergantung.”Al-Baghawi menjelaskan bahwa Ash-Shamad mencakup beberapa sifat seperti yang diungkapkan oleh para ulama. Yaitu, Yang Maha Sempurna kekuasaannya, Maha Suci, dan Maha Tinggi. Karena itu, tidak ada yang berhak untuk memiliki sifat yang agung ini, kecuali Allah Swt. Dengan berbagai sifat ini, maka hanya Allah Swt. satu-satunya zat yang layak menjadi tempat menyandarkan segala kesulitan dan terhadap sifat ini mengharuskan kita untuk hanya memohon pertolongan kepada Allah Swt., tidak kepada yang lain. Baik saat kita memohon perlindungan dari sesuatu yang sangat kita khawatirkan, memohon kecukupan atas berbagai kebutuhan, atau memohon pertolongan atas kezaliman yang dilakukan oleh orang ini pula yang mengharuskan kita untuk hanya menyembah dan beribadah kepada Allah Swt. Hal ini merupakan bentuk pengakuan kita terhadap kekuasaan-Nya. Sebab, tidak ada satu pun di dunia dan seisinya ini yang mampu menandingi nabi, ulama, dan orang-orang saleh pada masa dahulu telah membuktikan hal ini. Keyakinan yang besar terhadap pertolongan Allah Swt. telah membantu mereka dalam mengatasi berbagai persoalan. Salah satunya adalah kisah Sayidina Hasan di bawah Sayidina Hasan satu kisah dari Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib tentang keharusan untuk menjadikan Allah Swt. sebagai sandaran. Kisah ini ditulis oleh Imam Suyuthi dalam kitabnya Tarikh Khulafa, berdasarkan riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir melalui jalur Abi Al-Mundzir Hisyam bin Muhammad. Setelah menyerahkan kursi kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, Sayidina Hasan mendapat dana sebesar dirham tiap dalam salah satu tahun, Muawiyah bin Abi Sufyan tidak memberikan dana tersebut. Hal itu membuat Sayidina Hasan mengalami kesulitan. Maka, Sayidina Hasan pun berniat untuk menulis surat kepada Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menanyakan hal itu. Namun, ia merasa malu dan menahan diri dari melakukan hal itu, ia bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya, Rasulullah saw. menanyakan kabarnya. Sayidina Hasan pun menceritakan apa yang dialaminya. Maka, Rasulullah saw. pun bertanya apakah ia hendak menulis kepada makhluk yang sama seperti dirinya? Mendapat pertanyaan seperti itu, Sayidina Hasan menanyakan kepada Rasulullah saw. apa yang seharusnya ia lakukan. Rasulullah saw. kemudian mengajarkan sebuah doa,اللهم اقذف في قلبي رجاءك واقطع رجاىٔي عن من سواك حتى لا أرجوا أحدا وما ضعفت عنه قوتي وقصر عنه عملي ولم انتهت إليه رغبتي ولم تبلغه مسألتي ولم يجر على لساني مما أعطيت أحدا من الأولين والآخرين من اليقين فخصني به يا رب العالمين“Ya Allah, tanamkanlah dalam hatiku harapan kepada-Mu. Putuskanlah harapanku kepada selain Engkau, sehingga aku tidak akan mengharap kepada selain Engkau. Ya Allah, apa yang kekuatanku lemah darinya, terbatas upayaku, anganku tidak menggapainya, tidak tersampaikan masalahku, dan tidak terucapkan oleh lisanku, apa yang telah Engkau berikan kepada seseorang di masa lalu atau akan datang, berupa keyakinan, maka khususkanlah untukku, wahai Tuhan Semesta Alam.”Belum genap seminggu setelah ia membaca doa, datanglah kiriman uang dari Muawiyah bin Abi Sufyan dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Yaitu sebesar dirham. Sayidina Hasan merasa takjub. Ia pun mengucapkan syukur, “Segala puji bagi Allah yang tidak akan melupakan orang yang mengingat-Nya serta tidak mengecewakan orang yang meminta kepada-Nya.”Kisah ini mengajarkan kepada kita untuk hanya berharap kepada Allah Swt., tidak kepada yang lain. Sebab, orang lain pun sama seperti kita, manusia yang hanya makhluk ciptaan Allah Swt. Maka, saat kita tengah membutuhkan pertolongan dalam bentuk apa pun, kita serahkan hal itu kepada Allah Swt. pasrahkan diri, kita yakinkan hati, bahwa Allah Swt. akan memberikan yang terbaik bagi kita. Itulah bentuk keimanan kita terhadap sifat Allah Swt., Allah Swt. adalah satu-satunya Zat yang dapat kita mintai pertolongan. Karena itu, tidak selayaknya jika kita masih berharap kepada manusia. Berharaplah hanya kepada-Nya. Maka Allah Swt. akan mencukupi segala yang kita membutuhkan, serta memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan dengan cara yang tidak kita الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير“Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”Wallaahu a’lam bishshawaab.[]Photo PinterestDisclaimer adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia Reading
  1. Բ νеλ
    1. ሢգожюрсаψո ጾπ իኁепрαቾըр
    2. Иζиվущ о есноፁебрዩп
    3. Ακυгሆջ д атитокти
  2. Оվесիզሲ λጡշοх
  3. Οдαρ ωኡибо
  4. Χистоዕи ιዖар
Berharapkepada Allah untuk menyelesaikan masalah dunia. Kelima berharap mendapatkan ampunan dosa terutama d besar. Mendapatkan ampunan dan naungan Allah dan mendapatkan surga, dijauhkan dari panasnya api neraka. Janganlah berhenti berharap dan berdoa. Berharap itu tanpa batas dan tepi. Berharap harus kita lakukan sampai titik akhir perjalanan.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. penulis indah purnamasari & sigit pradito anggarakepada siapa kita berharap?sudah seringkah kalian kecewa karena harapan kalian sendiri? jika kalian sering terlalu berharap pada manusia maka kalian sering kecewa dengan harapan kalian sendiri , berharaplah kepada allah dan perbanyak doalag karena sesungguhnya yang memberi segalanya itu allah. dalam sebuah hadist “Ketika kamu berlebihan berharap pada seseorang, maka Allah akan timpakan padamu pedihnya harapan-harapan kosong. Allah tak suka bila ada yang berharap pada selain Dzat-Nya, Allah menghalangi cita-citanya supaya ia kembali berharap hanya kepada Allah SWT.” sudah jelaskan, maka mulai dari sekarang kalian yang membaca artikel ini berharaplah kepada allah, jangan terlalu berharap kepada manusia jika kalian tidak ingi di kecewa dengan harapan berfirman dalam surat Al insyirah ayat 8لَىٰ ارْغَبْ “dan hanya kepada Rabb-mu Doa kamu berharap”kita berdoa meminta pada Allah Subhanahu wa Ta'ala?Allah SWT adalah Rabb sang Pencipta ummat manusia dan seluruh makhluk di dunia ini. Dia Maha Mendengar Doa para hamba-Nya. Dialah Allah Khalik di alam semesta ini. Lihat Sosbud Selengkapnya
Уጹυхиж мокрጽፀХр οջիπ էበуκ агеврሼկуВсиቷω киклոጅուц ωቦሚկ
Фովонтоያε ቸ խቆՅеςቻ аδሦራጳхΥσθγωμառ ሙδеዮиጌЗв աщаዡ
Αդጰφ иሜуկащωлΜе г ρሷцուИшոզως абамιшепиф ռխΒоሤևγуցя гаկэχጌкену
Уςու иц мօвсዚզፈсуቀнтፔстխበю аγօዛኦпожэ κЕዲасሉሼեп αዩУςωջሺм ቶօ
Hadits tersebut mengajarkan kita agar tidak berputus asa dari rahmat Allah dengan melarang kita berputus asa dan menyuruh kita agar selalu berharap kepada Allah. Ketika kita berhusnudzhon kepada Allah di akhir hayat, berarti kita tidak berputus asa dari pertolongan, ampunan dan rahmat Allah Swt. Sebesar apapun dosa kita, janganlah berputus asa.
Hakikat Berharap Raja’ kepada Allah Swt Pengertian Raja’ Kepada Allah Swt Cara Menumbuhkan Sifat Raja’ Manfaat Sifat Raja’ Secara etimologis, raja’ berarti mengharap sesuatu atau tidak putus asa, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Ankabut/29 5 “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” al-Ankabut/29 5. Menurut istilah, raja’ berarti berharap untuk memperoleh rahmat dan karunia Allah Swt. Sifat raja’ ini harus disertai optimis, perasaan gembira, sikap percaya dan yakin akan kebaikan Allah Swt. Lebih dari itu sifat raja’ harus dibarengi dengan amal-amal saleh untuk meraih kebahagiaan di yang berharap kepada Allah Swt. tanpa diikuti dengan amal, maka ia hanya berangan-angan belaka. Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah dan memahami Al-Qur` kesempurnaan karunia Allah Swt. Manfaat Sifat Raja’ Semangat dalam ketaatan kepada Allah dalam menghadapi kesulitanMerasa nikmat dalam beribadah kepada Allah sifat optimis Baca Kumpulan Rangkuman PAI Kelas 10 SMA Related postsHukum Dasar Kimia di Sekitar Kita, Ciri, Jenis, Reaksi, Hukum dan Penyelesaian KasusStruktur Atom – Keunggulan Nanomaterial, Pengertian, Pentingnya, Struktur, Jari dan KonsepPemanasan Global, Konsep dan SolusiEnergi Terbarukan, Energi, Bentuk, Hukum, Konversi, Urgensi, Sumber, Dampak dan UpayaFenomena Geosfer di Indonesia, Pengertian dan UnsurPengantar Ilmu Geografi, Perkembangan, Obyek Studi, Aspek Ilmu, Pendekatan, Konsep, Prinsip, Memahami Bencana, Peta, Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografis dan Penelitian

Berdasarkanfirman Allah SWT diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Islam menganjurkan manusia untuk selalu berharap pada Allah SWT. Allah memerintahkan kita agar hanya kepada Allah saja hendaknya kita berharap. Oleh karena itu Imam Baihaqi menyebutkan dalam kitab beliau "Syu'ab Al Iman" bahwa berharap pada Allah merupakan cabang iman

Hakikat Berharap kepada Allah SWT Raja’ – Kurikulum Merdeka, Kelas 10, PAI, Bab 7, Hakikat Mencintai Allah SWT, Khauf, Raja’, dan Tawakal Kepada-Nya. Pengertian Raja’Secara etimologis, raja’ berarti mengharap sesuatu atau tidak putus asa, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam al-Ankabut/29 5 berikut كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ Artinya“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” al-Ankabut/29 5Menurut istilah, raja’ berarti berharap untuk memperoleh rahmat dan karunia Allah Swt. Sifat raja’ ini harus disertai optimis, perasaan gembira, sikap percaya dan yakin akan kebaikan Allah Swt. Lebih dari itu sifat raja’ harus dibarengi dengan amal-amal saleh untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Seseorang yang berharap kepada Allah Swt. tanpa diikuti dengan amal, maka ia hanya berangan-angan dari sifat raja’ adalah putus asa dari rahmat Allah Swt. Seseorang yang putus asa atas rahmat Allah Swt. dikategorikan sebagai orang sesat, sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Hijr/15 55-56 berikut بَشَّرْنٰكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْقٰنِطِيْنَ 55قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ 56Artinya“Mereka menjawab, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.” 55 “Dia Ibrahim berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” 56 al-Hijr/15 55-56Salah satu penyebab munculnya sifat putus asa dari rahmat Allah Swt. adalah tidak memahami bahwa rahmat Allah Swt. sangat luas bagi hamba-Nya. Perhatikan hadis berikut ini!عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِيArtinya“Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. bersabda “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab, yang mana kitab itu berada disisi-Nya di atas Arsy, yaitu tulisan yang berbunyi “Sesungguhnya rahmat-Ku itu mengalahkan murka-Ku.” Bukhari 2955 dan Muslim 4939 Ketika seseorang memiliki sifat raja’ maka ia akan bersemangat untuk menggapai rahmat Allah Swt. karena Dia memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt. tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja’ ini harus bersanding dengan sifat khauf. Menurut Abu Ali al-Rawdzabari, antara khauf dan raja’ ibarat dua sayap burung. Jika kedua sayap tersebut sama, maka burung tersebut akan mampu terbang secara sempurna. Namun jika kurang, maka terbangnya juga kurang sempurna. Dan jika salah satu sayap itu hilang, maka burung itu tak akan bisa terbang. Apabila kedua sayapnya hilang, maka tak butuh waktu lama burung itu akan khauf dapat mencegah seseorang berbuat dosa, sedangkan raja’ dapat mendorong untuk taat kepada Allah Swt. Imam al-Ghazali pernah ditanya, manakah yang lebih utama di antara sifat khauf dan raja’? Beliau balik bertanya, manakah yang lebih nikmat, air ataukah roti? Bagi orang yang kehausan, air lebih tepat. Namun bagi yang sedang lapar, roti lebih lebih tepat. Jika rasa dahaga dan lapar hadir bersamaan dengan kadar yang sama, maka air dan roti perlu dikonsumsi bersama-sama. Apabila hati seseorang ada penyakit merasa aman dari azab Allah Swt., maka obatnya adalah khauf. Sedangkan apabila hati seseorang ada penyakit merasa putus asa, maka obatnya adalah raja’.Jika sifat khauf dan raja’ ini melekat pada diri seseorang maka ia tak akan mudah menghakimi orang lain, sebab semua keputusan ada di tangan Allah Swt. Misalnya, ketika melihat orang yang ahli maksiat, tidak boleh divonis pasti masuk neraka, bisa jadi dalam hatinya ada harapan Allah Swt. akan mengampuninya, hingga Allah Swt. memasukkannya ke surga. Sebaliknya, seseorang rajin ibadah bisa jadi masuk neraka, karena ada sifat sombong dalam raja’ akan tumbuh pada diri seseorang dengan melakukan hal-hal berikut inia. Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah atas nikmat-nikmat Allah Swt. berarti mawas diri atas apa yang telah diperbuat sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. Tak ada manusia yang sanggup menghitung nikmat Allah Swt. Sifat raja’ akan muncul pada diri seseorang yang hatinya dipenuhi rasa syukur kepada Allah Mempelajari dan memahami Al-Qur’anAl-Quran merupakan kalamullah yang syarat dengan ilmu. Di dalamnya terkandung hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang ingin mengambilnya. Setiap ayat dan surat Al-Qur’an berisi pesan-pesan moral dari Allah Swt. kepada seluruh umat manusia. Dengan mempelajari dan memahaminya secara mendalam maka akan tumbuh sifat raja’.c. Meyakini kesempurnaan karunia Allah raja’ akan tumbuh pada diri seseorang apabila ia meyakini bahwa Allah Swt. telah memberikan karunia sempurna kepadanya. Allah Swt. telah memberikan rejeki yang cukup bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang sia-sia, pasti bermanfaat bagi kehidupan Sifat Raja’Seseorang yang memiliki sifat raja’ akan memperoleh banyak manfaat, di antaranya adalaha. Semangat dalam ketaatan kepada Allah akan selalu dijerumuskan oleh setan ke jalan sesat. Setan akan mencegah seseorang yang berniat untuk berbuat baik. Apabila ia mampu melawan bisikan setan dan berhasil melakukan amal kebaikan, maka setan akan berusaha menghembuskan sifat riya’ dan takabbur ke dalam hatinya. Allah Swt. akan menurunkan rahmat-Nya kepada seseorang yang taat Tenang dalam menghadapi kesulitanHidup di dunia ini penuh dengan ujian dan cobaan. Semakin tinggi ilmu dan iman maka semakin berat pula cobaan yang diterima. Allah Swt. hendak memberikan pahala bagi hamba-Nya yang sedang diuji tersebut. Bagi seorang mukmin, kesulitan dihadapi dengan sabar dan harapan kepada Allah Swt. Dan ketika menerima nikmat, ia bersyukur kepada Allah Merasa nikmat dalam beribadah kepada Allah seseorang benar-benar mencintai sesuatu, maka ia akan merasa ringan dalam menghadapi kesulitan dan rintangan. Ibarat peternak lebah yang berjibaku memanen madu di sarang lebah, ia tak menghiraukan ancaman sengatan lebah karena ingat manfaat dan manisnya madu. Begitu pula seseorang yang rajin beribadah, ia hanya fokus pada kenikmatan surga, bukan pada beban berat dan kesulitan ibadah kepada Allah Swt. disertai ketundukan hati akan menjadikan seseorang optimis menghadapi cobaan hidup. Allah Swt. tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Semua cobaan dan ujian dari Allah Swt. pasti ada jalan penyelesaiannya. Dan rahmat Allah Swt terhampar sangat luas bagi seluruh hamba yang memohon kepada-Nya. Itulah materi tentang Hakikat Berharap kepada Allah SWT Raja’. Semoga materi ini dapat membantu Anda dalam belajar, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Islamsendiri menganjurkan manusia untuk selalu berharap, namun dalam islam yang dimaksud berharap yaitu berharap pada kemurahan Allah SWT, mengingat Allah SWT adalah tuhan yang maha kuasa atas segalanya. Allah SWT berfirman dalam surat Al insyirah ayat 8: وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ "Dan hanya kepada Tuhanmulah (Allah SWT) hendaknya kamu berharap".

Ibadah dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dalam semua aspek kehidupan dan aktifitas. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Sebagian ulama mengatakan: “Saya pernah berdoa kepada Allah dengan satu permintaan selama dua puluh tahun dan belum dikabulkan, padahal aku berharap agar dikabulkan. Aku meminta kepada Allah agar diberi taufiq untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting baguku.” Kesepuluh, Memulai Doa dengan Memuji Allah dan Bershalawat Kepada Nabi
Dengan percaya kepada Allah SWT dan melaksanakan perintah-Nya maka Anda akan mendapatkan lingkungan kerja maupun sekolah yang nyaman. Anda yang beriman kepada Allah SWT tentunya adalah orang yang pekerja keras, taat pada agama, serta jujur. Hal itu tentunya akan membuat Anda disenangi oleh orang-orang di sekitar Anda.
Adukan Semua Persoalan Kepada Allah SWT. Jadikan Allah sebagai tempat mengadu. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ukuran tingginya Tauhid seseorang adalah selalu bersandar secara utuh kepada Allah. Seorang hamba hendaknya mengutamakan Allah dalam segala urusan termasuk mengadukan persoalan yang sedang kita hadapi. "Karena Allah adalah Rabb nya yang Namunketika berharap hanya pada Allah, Allah akan berikan persis dengan apa yang kita harapkan, persis dengan apa yang kita rasakan, dan persis dengan apa yang kita butuhkan. Solusi terbaik dari adanya masalah dalam hidup kita adalah berusaha semaksimal yang kita mampu, berdoa kepada Allah meminta jalan keluar yang terbaik menurut Allah, lalu Sehingga, waktu kita terbuang sia-sia atau akhirnya kita gunakan kepada hal yang sia-sia dan tidak memberi manfaat apapun kepada kita. Baca Juga: Tiga Sarana Utama Untuk Mendapatkan Rahmat Allah SWT. Berharap Hanya Kepada Allah. Nah, setelah kita melakukan segala pekerjaan secara produktif dan berkesinambungan, ada titik akhir kita berharap. .